Asal-usul penduduk Lembata bisa ditelusuri melalui barang-barang bersejarah dan lagu rakyat (folklor) yang telah dilestarikan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi seterusnya sampai saat ini.
Pada lagu berisi lirik yang disebut Lia Asa Usu (lirik tentang asal-usul) yang ditampilkan dalam upacara kenegaraan.
Syair tersebut menceritakan petualangan leluhur-leluhur utama suku-suku asli di Lamalera yang dimulai dari wilayah Luwuk sampai mereka tiba di bagian selatan Pulau Lembata lalu memutuskan untuk bermukim disana.
Sebelum tiba di Pulau Lembata, rombongan mengikuti jejak armada Patih Gajah Mada yang berlayar menuju perairan Halmahera, hingga mencapai Irian Barat. Setelah itu, mereka membelok ke selatan untuk singgah di beberapa tempat seperti Pulau Seram, Pulau Grom, kemudian melanjutkan petualangan mereka ke Ambon, Kepulauan Timor sebelum pada akhirnya merapat di Pulau Lembata.
Berdasarkan bukti tersebut juga bisa ditelusuri bahwa masyarakat Lamalera berasal dari Luwuk di Sulawesi Selatan.
Pemindahan mereka dari wilayah selatan Sulawesi disebabkan karena serangan penaklukan kerajaan setempat oleh kekuatan Majapahit saat masa kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Grup yang berpindahlah yang kemudian berkembang menjadi asal-usul dari komunitas kelima marga atau suku dalam orang Lamaleran, yakni Suku Batona, Blikolollo, Lamanundek, Tanakrofa, dan Lefotuka.
Setelah menetap, mereka mendirikan jaringan kerabat dan komunitas nelayan yang masih bertahan sampai sekarang.
Berkat aktivitas sebagai nelayan yang melibatkan pencarian dan penangkapan ikan di lautan menjadi sumber penghidupan primer bagi penduduk Lamalera.
Tradisi ini telah ditinggalkan turun-temurun oleh nenek moyang mereka sejak jaman dahulu, kebiasaan unik bagi masyarakat pesisir Lamalera membedakannya dari para nelayan lainnya dan merupakan hal yang jarang ditemui adalah fokus pada penangkapan ikan raksasa seperti paus.
Editor : Pimred Laksamana.id