Entah alasan wonderkid Brazil masih terlalu muda untuk menangani tekanan menjadi eksekutor atau ketakutan yang menghantamnya, sang pelatih dari Italia itu memiliki alasannya sendiri tentang masalah ini.
"Pada saat melakukan tendangan penalti terakhir, kita sedikit bingung tentang siapa yang harus mengeksekusi antara Ruediger dan Endrick," kata Ancelotti.
"Kami sebenarnya menginginkan Endrick..."
"Tetapi setelah itu, saya melihat wajahnya dan memilih Ruediger sebagai opsi yang lebih tepat," jelas Ancelotti dengan tawanya.
Pilihan yang dibuat oleh Carlo Ancelotti ternyata benar.
Ruediger sukses mengakhiri pertandingan yang penuh tekanan dengan baik dan memastikan lolosnya Real Madrid ke babak delapan besar Liga Champions berkat kemenangan 4-2 tersebut.
Mantan pemain belakang Chelsea itu kemudian merayakan golnya sambil diberi selamat oleh rekannya dengan menampilkan pose khas miliknya.
Dari pihak Atletico, hanya Alexander Sorloth dan Angel Correa yang sukses menjaringkan tendangan penalti.
Pada saat yang sama, gol dari Julian Alvarez dibatalkan oleh sistem VAR lantaran tak sah berkat kaki kirinya menyentuh bola terlebih dahulu sebelum dia menendang dengan menggunakan kakinya yang kanan.
Editor : Pimred Laksamana.id