Scroll untuk baca artikel

Sampah Bernilai Emas, Inovasi PALUGADA PHE OSES Perkuat Ekonomi Masyarakat Kepulauan Seribu

Serah terima bibit rumput laut dari PHE OSES ke kelompok masyarakat, di kepulauan seribu
Serah terima bibit rumput laut dari PHE OSES ke kelompok masyarakat, di kepulauan seribu

Laksamana.id | Kepulauan Seribu – Di tengah persoalan sampah dan tingginya biaya budidaya perikanan, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) menghadirkan solusi inovatif melalui Program PALUGADA (Panggang Lestari dan Mandiri Mendukung Budidaya Ikan Berkelanjutan). Program ini berhasil mengubah sampah organik menjadi sumber ekonomi baru yang memperkuat ketahanan usaha masyarakat pesisir di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Sejak dijalankan pada tahun 2023, PALUGADA hadir menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pembudidaya ikan, mulai dari mahalnya harga pakan, keterbatasan benih unggul, hingga tingginya biaya operasional yang memengaruhi produktivitas usaha perikanan.

Head of Communication Relations & CID PHE OSES, Indra Darmawan, mengatakan PALUGADA merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

"PALUGADA tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas budidaya ikan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," ujar Indra Darmawan. Selasa (11/8/2026)

Melalui kerja sama dengan Pokdakan Kerapu Cantik dan Bank Benih Pakubaja, PHE OSES mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan. Inovasi tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.

Hingga saat ini, sebanyak 2.653 kilogram sampah organik berhasil diolah menjadi maggot bernilai ekonomi tinggi. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, hasil budidaya maggot juga berkontribusi dalam menekan biaya produksi para pembudidaya ikan.

Program PALUGADA turut menghadirkan Bank Benih Ikan sebagai sarana penyediaan benih unggul yang mudah diakses masyarakat. Kehadiran inovasi ini mampu menghasilkan omzet hingga Rp14,7 juta per siklus serta menghemat biaya pakan sekitar Rp2,7 juta per siklus.

Dampak positif program juga dirasakan secara sosial. Sedikitnya 15 rumah tangga terlibat aktif dalam pengelolaan sampah organik dan kegiatan budidaya yang menjadi bagian dari rantai ekonomi sirkular. Berbagai pelatihan diberikan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, mulai dari teknik budidaya ikan, produksi pakan alternatif, hingga penguatan kelembagaan kelompok usaha.

Menurut Indra Darmawan, keberhasilan PALUGADA membuktikan bahwa kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, dan akademisi mampu menghadirkan solusi nyata yang menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

"Kami berharap program ini dapat menjadi model pengembangan ekonomi masyarakat pesisir yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lainnya, sehingga manfaatnya semakin luas dan berkelanjutan," tambahnya.

Editor : Pimred Laksamana.id
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini