Komaruddin mengingatkan bahaya berita bohong atau sensasi murahan.
“Jangan sampai pers itu mengembuskan hoaks. Orang berbondong-bondong datang karena dikira ada kebakaran, padahal tidak ada apa-apa. Itu mengkhianati kepercayaan publik,” ucapnya.
Menurutnya, pers juga berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
“Pers itu wakil pemerintah untuk menyampaikan prestasi kepada publik, tetapi sekaligus menyampaikan keluhan dan kritik masyarakat kepada pemerintah dengan cara yang profesional, edukatif, dan etis,” tambahnya.
Komaruddin menyoroti terpukulnya banyak media arus utama akibat perpindahan belanja iklan ke media sosial dan platform digital.“Sekarang ini mengapa banyak media mainstream melakukan PHK? Karena pemasukan menurun. Dulu pemasukan utama dari iklan, sekarang iklan lari ke media sosial dan platform digital,” paparnya.
Ia menyebut banyak kreator konten mengejar sensasi agar menarik perhatian pengiklan.
Editor :
