Scroll untuk baca artikel

Kematian Harimau Sumatera: Bakas, Jadi Peringatan untuk Perbaikan Konservasi

Kematian Harimau Sumatera: Bakas, Jadi Peringatan untuk Perbaikan Konservasi
Kematian Harimau Sumatera: Bakas, Jadi Peringatan untuk Perbaikan Konservasi

Hasil pemeriksaan drh. Sugeng Dwi Hastono menyebutkan, penyebab kematian adalah pendarahan otak akibat benturan benda tumpul yang menyebabkan kematian otak (brain death).

Aktivis GERMASI Soroti Akar Masalah dan Desak Evaluasi Sistem Konservasi

Menanggapi kejadian tersebut, Ridwan Maulana, C.PL, CDRA, selaku Founder Masyarakat Independent GERMASI, menyampaikan keprihatinan dan kritik atas penanganan yang dinilai kurang tepat.

“Dengan matinya Harimau Sumatera ini, kita harus jujur mengakui ada yang salah dalam tata kelola konservasi kita. Bakas seharusnya dikembalikan ke habitat alami di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), bukan dikurung di kandang buatan,” ujar Ridwan.

Ia menilai akar persoalan sebenarnya bukan pada perilaku harimau, melainkan kerusakan habitat akibat alih fungsi hutan dan perambahan liar.

“Harimau tidak akan turun ke kebun warga jika hutannya masih utuh. Saat hutan rusak, satwa kehilangan ruang hidupnya. Namun ironisnya, justru harimaunya yang direlokasi, sementara penyebab kerusakan hutan dibiarkan,” tambahnya.

GERMASI dan CSM Serukan Audit dan Reformasi Kebijakan Konservasi

Editor : Yanto
Sumber : GERMASI
Bagikan

Berita Terkait
Terkini