Di samping itu, Indeks CDS di Indonesia mengalami kenaikan akibat penurunan peringkat pasar saham domestik yang dilakukan oleh dua institusi global, yaitu Morgan Stanley dan Goldman Sachs.
Kenaikan tingkat suku bunga acuan Indonesia ini akan membebani pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada periode mendatang. Terlebih lagi, IHSG juga dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif dari kancah global.
"Pastinya akan menjadi beban bagi IHSG, namun semoga saja indeksnya tidak jatuh ke bawah angka 6.000," ujar Budi pada hari Minggu (23/3).
Meski risiko volatilitas pasar masih ada, Budi memproyeksikan, IHSG dapat bergerak ke kisaran level 6.400 pada akhir kuartal I-2025. Sementara sampai akhir tahun nanti, ia memprediksi IHSG akan berada di kisaran 6.700—6.800.
Dia juga memperkirakan saham-saham dari emiten di sektor industri sawit dan pangan berpotensi tetap tumbuh pada 2025 selama harga Crude Palm Oil (CPO) dunia tidak menunjukkan pola pengurangan. "Perusahaan yang memiliki potensi untuk meningkatkan saham mereka atau paling sedikit tetap stabil mungkin berasal dari perusahaan yang telah melaksanakan tindakan." buyback ,” imbuhnya.
Sebaliknya, Teguh mengestimasikan bahwa IHSG tetap memiliki risiko untuk jatuh di bawah level saat ini. Kondisi itu mungkin akan terwujud apabila pemerintah tidak segera melakukan evaluasi atas keputusan-keputusannya yang berhubungan dengan keyakinan para investor mancanegara dan disertai oleh penurunan kesehatan ekonomi secara lokal semakin parah.
"Bukan mustahil IHSG dapat merosot hingga sekitar 5.000. Namun, yang diharapkan adalah pemerintah tidak mengeluarkan keputusan yang ganjil, agar pasar modal bisa memulihkan diri," ungkap Teguh.
Akan tetapi, ia belum dapat memberi rekomendasi tentang saham unggulan pada saat ini karena situasi pasarnya masih sangat tidak pasti. Oleh sebab itu, diharapkan para investor lebih dulu melakukan tindakan menunggu dan melihat.
Analisis Mengungkap Alasan Kenaikan Risiko Investasi (CDS) di Indonesia
Editor : Pimred Laksamana.id
