Scroll untuk baca artikel

Ujian Nyata Tak Terduga di Saat Berbuka

Ujian Nyata Tak Terduga di Saat Berbuka
Ujian Nyata Tak Terduga di Saat Berbuka

Hampir sebulan telah berlalu selama Ramadan, dan aura spesialnya makin kuat dirasakan. Lalu lintas menjadi lebih padat mendekati waktu maghrib, diisi oleh manusia yang bergegas untuk memburu buka puasa.

Pedagang kecil itu terlihat senyum lebar saat melihat barang dagangannya laku keras, sedangkan beberapa pedagang lain tetap duduk di belakang gerobak mereka, menantikan adanya pelanggan baru sebelum petunjuk waktu shalat dikumandangkan.

Terdapat keteduhan dalam panorama ini, seolah-olah peringatan bahwa bulan Ramadhan senantiasa menghadirkan keberkahan dengan cara-cara sederhana. Namun, di antara kesibukan tersebut, terbayang sesuatu yang sering kali muncul dalam pikiran;

Ramadan sungguh mendidik kita untuk bertapa dari rasa lapar dan haus, tetapi masih terdapat banyak hal lain yang patut dikendalikan, yang kiranya jauh lebih sukar ketimbang hanya menantikan saat berbuka puasa.

Tiap individu pasti punya hambatan tersendiri saat berpuasa. Beberapa mungkin menganggap kesulitan utama adalah perlu bertahan dari rasa lapar dan dahaga sepanjang hari. Sementara itu, ada pula yang fokus pada pengendalian emosi seperti marah ataupun memelihara ucapan untuk tidak melukai hati orang lain.

Sayangnya, tantangan yang kerap diabaikan adalah "mengontrol diri terhadap perilaku yang dapat dikelola." Meskipun Ramadhan hadir sebagai waktu untuk berpantauan dan introspeksi, ternyata tak setiap individu memandangnya sebagai kesempatan untuk melakukan transformasi.

Banyak orang masih menghabiskan waktu lama di media sosial tanpa sadar bahwa bulan Ramadan sudah semakin dekat berakhirnya. Di sisi lain, ada pula yang terus-menerus berkumpul dengan teman-temannya sampai dini hari dan melupakan momen penting yang dapat digunakan lebih produktif.

Bukan bermaksud bahwa kebiasaan tersebut buruk, tetapi adakah saatnya menghentikan diri sebentar dan memikirkan: Sebenarnya apa tujuan kita dalam bulan yang diberkati ini?

Setelah berbuka puasa, terdapat dua pemandangan yang agak bertolak belakang. Di satu sisinya, masjid-masjid mulai dipadati jamaah yang siap melaksanakan salat tarawih. Beberapa tiba dengan antusiasme tinggi, sebagian lain hanya mengikutinya secara formal, serta beberapa lagi tetap bertahan sampai witir, menyerap atmosfer Ramadan yang istimewa ini yang tak hadir setiap hari.

Sebaliknya, terdapat tempat nongkrong yang tak kalah populernya. Sebagian orang lebih suka berada di warung kopi atau bertemu di taman kotama, merasakan suasana malam dengan percakapan yang lancar dan alami.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini