Postingan lama Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade kembali ramai dibicarakan di media sosial.
Andre Rosiade menyebutkan kinerja Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina.
Pos ini menjadi viral karena Ahok kembali membicarakan kasus korupsi Pertamina yang melibatkan 9 tersangka, di antaranya adalah pejabat tinggi Pertamina.
Ahok menceritakan bahwa ia pernah berencana untuk menggantikan direktur utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan yang sekarang menjadi tersangka.
Namun Ahok tidak dapat melakukannya karena hanya sebagai Komisaris Utama dan tidak memiliki wewenang.
Di tengah munculnya Gubernur Ahok yang siap membantu Kementerian Hukum dan HAM, postingan lama Wakil Ketua Komisi VI DPR, Andre Rosiade, tentang Ahok kembali populer di media sosial.
Pada 15 September 2020, Andre Rosiade meminta kepada Presiden ke-7 Joko Widodo untuk menggugurkan jabatan Gubernur Ahok.
Pada saat itu, Andre Rosiade meminta Ahok digantikan setelah mengungkapkan kelemahan Pertamina.
Menurut Andre Rosiade, Ahok hanya membuat keributan saja.
Bahkan dia mengatakan bahwa kinerja Anies Baswedan sebagai Gubernur biasa-biasa saja.
.
Namun, pasalnya Ahok tidak digantikan, dan tetap menjabat sebagai Komisaris Utama hingga masa jabatannya berakhir pada tahun 2023.
Dugaan korupsi yang dilakukan oleh Riva Siahaan terjadi selama masa jabatan Ahok.
Salah satu cara korupsi pengelolaan minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina, Sub Holding, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018-2023 adalah mengcampur bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dengan Pertalite.
Menurut Ahok, ketika dirinya menjabat sebagai Komut Pertamina, ia tidak bisa mengambil apa pun.
"Saya tidak pernah kehabisan ide, hanya masalahnya saya tidak pernah dipercaya (menjabat) sebagai Dirut. Saya bilang beberapa kali, jika memang serius ingin membersihkan Pertamina saya itu Dirut, bukan Komut," kata Ahok.
Ia juga menyebutkan adanya oknum DPR RI yang mengaku ingin memanggilnya saat masih menjabat Komut.
"Saya menantang balik, DPR memanggil saya hadir, saya pasti hadir asalkan sidang terbuka. Sampai hari ini tidak ada yang berani memanggil saya DPR. Mengapa? Takut itu orang semua, takut saya berbicara apa? Tidak ada yang berani semua," kata Ahok.
Ahok menyatakan diri siap dihimpit oleh Kejaksaan Agung terkait kasus korupsi Pertamax ini.
“Jadi saya senang kalau jaksa memanggil, saya punya rekaman suara rapat semua. Saya hanya meminta agar sidang terbuka di Republik ini,” kata Ahok seperti dikutip dari Liputan 6.
Ahok siap membantu Kejagung untuk mengungkap korupsi di Pertamina.
Baca juga: Riva Siahaan Jadi Tersangka Pertamax Oplosan Usai Tak Nurut Ahok, Ngeyel Saat Ketahuan Licik
“Baiklah, saya sudah siap, saya senang membantu. Dan saya senang jika di sidang, semua rekaman rapat itu diputar agar seluruh rakyat Indonesia dapat mendengarkan apa yang terjadi di Pertamina, apa yang saya marah-marah di dalam,” kata Ahok.
Menurutnya, sebagai Komut, tidaklah mungkin baginya untuk melakukan semua itu secara detail, bahkan hingga melakukan pemeriksaan minyak.
"Jika semua harus memeriksa minyak, menerima buku tulis, dan membeli beras harus saya lakukan, lantas apa gunanya ada ratusan ribu pegawai. Biarkan aku saja yang melakukannya," katanya.
Sementara itu, dalam postingannya di Instagram, Andre Rosiade mengatakan akan mengadakan pertemuan dengan PT Pertamina pada 12 Maret 2025 terkait korupsi dalam pengelolaan minyak.
Komisi VI DPR akan mengajukan pertanyaan mengenai persiapan Pertamina sebelum Hari Raya Idul Fitri.
"Kasus ini sungguh mengejutkan kita semua. Minggu lalu teman-teman yang berada di Komisi XII sudah memanggil Pertamina, jadi kami rencanakan akan memanggil Pertamina di tanggal 12 Maret untuk menanyakan perkembangan kasus ini," kata Andre di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2025).
Selain itu, Andre juga menerima masukan dari masyarakat terkait dugaan penipuan penjualan BBM Pertalite dan Pertamax yang beredar di masyarakat," tulis Andre Rosiade di caption foto.
(*/laksamana.id)
Editor : Pimred Laksamana.id