PROFIL Winda Wanayu,Istri Riva Siahaan Dirut Pertamina yang Oplos Pertalite Jadi Pertamax

PROFIL Winda Wanayu,Istri Riva Siahaan Dirut Pertamina yang Oplos Pertalite Jadi Pertamax
PROFIL Winda Wanayu,Istri Riva Siahaan Dirut Pertamina yang Oplos Pertalite Jadi Pertamax

Diketahui profil istrinya Riva Siahaan, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga yang memperoleh keuntungan dengan mengubah pertalite menjadi pertamax.

Keluarga Riva Siahaan selama ini memilih untuk menjaga privasi mereka dengan baik.

Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya sosok anak dan istrinya.

Riva Siahaan jarang sekali membagikan momen berbagi waktu bersama keluarganya yang dicintainya.

Sekarang ini terungkap sosok istri yang setia menemani dia selama beberapa dekade.

Istri Riva Siahaan diketahui berinisial Winda Wanayu.

Mereka yang menikah itu akhirnya dikaruniai dua orang anak.

Beredar di media sosial akun TikTok @Jogjoayutenang.official memposting foto-foto Winda.

Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Ibu Winda, istri dari Bapak Direktur Riva Siahaan, ke Joglo Ayu Tenan yang memilih perhiasan kami. Kami sangat berharap Ibu dapat menikmati kunjungan Anda ke tempat kami!

Dalam foto tersebut, Winda terlihat mengenakan rambut panjangnya dengan menggabungkan jaket coklat muda dengan baju putih dan celana jins biru.

Winda Wanayu memang memiliki akun Instagram.

Pada Selasa (25/2/2025) malam, ditemukan bahwa akun tersebut masih aktif, tetapi dalam keadaan terkunci.

Dalam keterangannya, ia menyebutkan bahwa profesinya adalah sebagai pelatih yoga atau fasilitator terapi suara.

Tidak banyak informasi tentang istrinya Riva Siahaan yang bisa kami sampaikan.

Tidak ada respons langsung dari Winda hingga artikel ini diterbitkan, meskipun suaminya telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Selain Riva Siahaan, ada enam tersangka lain yang ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka adalah Yoki Firnandi (YF) sebagai Presiden Direktur PT Pertamina International Shipping, Satria Dharma Sakti (SDS) sebagai Direktur Pemasok dan Optimasi Produk PT Kilang Pertamina Internasional, dan Andika Priyono (AP) sebagai Wakil Presiden Manajemen Pemasok PT Kilang Pertamina Internasional.

Lalu, MKAR sebagai pemilik utama PT Navigator Khatulistiwa; DW sebagai komisaris PT Navigator Khatulistiwa serta komisaris PT Jenggala Maritim; dan GRJ sebagai komisaris PT Jenggala Maritim dan direktur utama PT Orbit Terminal Merak.

Berikut adalah peran ketujuh orang yang dicurigai dalam kasus ini:

Riva Siahaan bersama dengan SDS dan AP menangani kasus penggelapan minyak mentah dan produk kilang yang dilakukan secara melawan hukum.

Sementara itu, terduga DM dan GRJ melakukan komunikasi dengan terduga AP untuk mendapatkan harga tinggi (spot) pada saat syarat belum dipenuhi dan mendapatkan persetujuan dari SDS untuk mengimpor produk kilang.

Riva melakukan pembelian produk Pertamax (Ron 92) oleh PT Pertamina Patra Niaga dalam proses pengadaan produk kilang.

Padahal, sebenarnya cukup membeli bensin Pertalite (BBM 90) atau yang lebih rendah saja.

Selanjutnya, Pertalite tersebut di-blending di Gudang/Depo untuk menjadi Bensin 92.

Padahal, hal itu tidak boleh dilakukan.

Selanjutnya, ketika melakukan impor minyak mentah dan produk kilang, ditemukan fakta bahwa Yoki sebagai Direktur Utama PT Pertamina International Shipping melakukan mark up kontrak pengiriman.

Pemerintah mengenakan biaya sekitar 13 hingga 15 persen secara ilegal, sehingga pelaku MKAR mendapat keuntungan dari transaksi tersebut.

“Ketika kebutuhan minyak dalam negeri sebagian besar dipenuhi oleh produk impor secara ilegal, maka komponen harga dasar yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan Harga Index Pasar (HIP) Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijual kepada masyarakat menjadi mahal sehingga digunakan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi maupun subsidi BBM setiap tahun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” jelas keterangan tersebut.

”Karena beberapa pelanggaran terhadap hukum tersebut, negara telah mengalami kerugian sebesar Rp 193,7 triliun,” kata Kepolisian Negara.

Kemudian, berapa jumlah kekayaan Riva Siahaan setelah dia berhasil mengembangkan Pertalite menjadi Pertamax?

Harta Kekayaan Riva Siahaan

Riva memiliki harta sebesar Rp21,6 miliar berdasarkan laporan kekayaan negara (LHKPN) miliknya yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 31 Maret 2024 untuk periode 2023.

Tapi, mengingat adanya utang sebesar Rp2,6 miliar, harta Riva mencapai Rp18,9 miliar.

Sebagian besar harta bawalah dialami dari tiga unit tanah dan bangunan yang berada di Tangerang Selatan, Banten seharga Rp7,7 miliar.

Dia juga memiliki empat kendaraan, yaitu dua mobil dan tiga sepeda motor, dengan total nilai Rp2,9 miliar.

Riva juga memiliki aset berupa harta bergerak lainnya sebesar Rp808 juta, surat berharga Rp1,5 miliar, serta kas dan setara kas sejumlah Rp8,6 miliar.

Riva Siahaan bukanlah orang asing di perusahaan pelat merah PT Pertamina (Persero) Tbk.

Dia, seorang lulusan Magister Business Administration dari Oklahoma City University, Amerika Serikat, dan Manajemen Ekonomi dari Universitas Trisakti, memulai karirnya di Pertamina pada tahun 2008.

Riva memulai karirnya di Pertamina sejak tahun 2008-2010 sebagai Key Account Officer, menurut catatan LinkedIn miliknya.

Dia kemudian menjabat sebagai Kepala Bunker Senior pada tahun 2010-2015.

Setelah itu, Riva bekerja sebagai Bunker Trader di Pertamina Energy Services selama satu tahun, dari tahun 2015-2016.

Pekerjaannya terus naik pangkat sejak menjabat sebagai Senior Officer Industri Akun Utama pada tahun 2016-2018.

Riva kemudian menjabat sebagai Analis Harga, Pasar, dan Pengembangan Produk di PT Pertamina pada tahun 2018-2019.

Riva mulai menempati posisi tinggi di Pertamina dengan jabatan pertama sebagai Wakil Presiden Operasional Minyak Mentah dan Gas hingga menjadi Direktur Komersial di anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina International Shipping, pada tahun 2021.

Dia kemudian menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Perdagangan Korporat selama sekitar dua tahun dari tahun 2021 hingga 2023.

Riva menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga pada tahun 2023, menggantikan Alfian Nasution yang kemudian dipindahkan menjadi Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero).

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag: