Mengulas tentang topik hashtag #KaburAjaDulu yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Ketua Dewan Pembina Indonesia Juara Foundation dan Dosen Peneliti Tenaga Kerja di Sekolah Bisnis Manajemen ITB, Muhammad Yorga Permana, mengatakan bahwa #KaburAjaDulu adalah bentuk kekecewaan dari anak muda terhadap situasi ekonomi yang sulit, kesulitan mencari pekerjaan, biaya pendidikan yang mahal, serta penghasilan yang rendah.
Oleh karena itu, banyak orang melihat bekerja di luar negeri sebagai pilihan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Tidak hanya merupakan fenomena sementara, tetapi juga merupakan tanda-tanda buruk dari kondisi ekonomi dan sosial yang berlangsung terus-menerus bagi generasi muda.
Yorga mengidentifikasi tiga pemicu utama yang mendorong anak muda untuk mencari kesempatan di luar negeri.
Pertama, kebijakan pemerintah dinilai tidak efektif dalam menciptakan lapangan kerja. Kemarahan generasi muda telah terakumulasi sejak masa pandemi Covid-19, terutama karena kebijakan yang dirasa tidak adil dan berpihak kepada mereka.
Faktor kedua yang mempengaruhi adalah meningkatnya kesempatan pekerjaan di luar negeri.
"Fenomena ini bukanlah hal baru, namun kini telah berkembang menjadi sebuah masalah besar di mana banyak orang yang mengalami pengangguran, disertai dengan akses informasi yang semakin terbuka tentang kesempatan kerja di luar negeri dan beasiswa," kata Yorga dalam keterangannya, Selasa (18/2/2025).
Ketiga, kesiapan anak muda untuk menghadapi dunia kerja menjadi hal yang sangat penting. Mereka memerlukan persiapan yang matang untuk lebih siap dan kuat menghadapi tantangan di tempat kerja.
Rasa kekecewaan akibat kurangnya persiapan selama masa transisi dari sekolah ke dunia kerja juga turut menjadi penyebab kemarahan mereka atas ketidakpastian iklim kerja.
Menurut Yorga, saat ini Indonesia menghadapi tantangan besar di pasar kerja.
"Pekerjaan yang layak di Indonesia sangat terbatas. Angka pengangguran resmi mencapai 7,2 juta orang, dan ada juga yang disebut pengangguran tersembunyi, yaitu sekitar 12-15 juta orang," jelasnya.
"Selain itu, hanya 40 persen dari pekerjaan yang termasuk sebagai sektor formal, sedangkan 60 persen lainnya berasal dari pekerjaan informal. Jika kita membicarakan sektor formal, sebenarnya hanya 24 persen dari mereka yang memiliki kontrak kerja formal yang sah," kata Yorga.
Situasi ini semakin memburuk dengan munculnya gelombang PHK. Menurut data resmi pemerintah, lebih dari 80 ribu orang telah kehilangan pekerjaan pada tahun 2024 dan kemungkinan besar jumlahnya masih lebih tinggi.
Menurutnya, jika rasa kecewa ini terkait dengan kondisi ekonomi dan politik, efeknya bisa sangat luas. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka mereka tidak memiliki penghasilan.
Hal ini menyebabkan melemahnya kelas menengah, yang seharusnya menjadi pilar penting bagi demokrasi. Tanpa adanya kelas menengah yang kuat, dukungan terhadap demokrasi akan melemah; sehingga memperumitkan kondisi politik dan menyempitkan ruang untuk menyuarakan kritik.
Sementara itu, berbagai program pemerintah yang sering diiklankan di media sosial belum cukup meyakinkan generasi muda. Banyak yang berpendapat bahwa program-program tersebut lebih bersifat simbolis tanpa menimbulkan dampak nyata.
"Anak muda yang kritis itu bagus, karena itu merupakan bentuk kontrol sosial. Namun, mereka membutuhkan kebijakan yang sebenarnya bisa dirasakan, bukan hanya sekedar gimmick," ujarnya.
Yorga mengatakan, ambisi Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045 mungkin akan terancam jika situasi saat ini tidak berubah.
Target Indonesia Emas adalah 80 persen penduduk berada di kelas menengah, tetapi pada tahun 2019, target tersebut baru tercapai oleh 21 persen.
Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut bahkan turun menjadi 17 persen pada tahun 2024. Indikator ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di jalur yang tidak sesuai dengan visi yang diharapkan.
Menurutnya, bekerja di luar negeri bisa menjadi pilihan yang tepat jika dilakukan dengan persiapan yang matang.
"Jika tidak siap, mereka bisa berakhir sebagai pekerja ilegal. Tapi bagi pekerja intelektual, ini bisa menjadi kesempatan besar," ucapnya.
Yorga menyatakan bahwa bekerja di luar negeri dapat memberikan manfaat bagi Indonesia melalui proses sirkulasi kecerdasan.
Diaspora dapat berkontribusi melalui jaringan internasional, transfer teknologi, atau bahkan kembali ke tanah air untuk membangun industri.
Meskipun bekerja di luar negeri mungkin tampak menjanjikan, Yorga menekankan bahwa ini bukanlah cara singkat untuk sukses.
"Tantangan seperti loyalitas, persaingan yang ketat, dan tuntutan keterampilan harus dihadapi. Remaja harus meningkatkan daya saing dengan keterampilan digital, bahasa Inggris, dan kepercayaan diri," katanya.
Akhirnya, yang dapat membuat anak muda lebih bahagia adalah peningkatan pendapatan, dan itu hanya dapat dicapai melalui keterampilan. Ini menjadi pengingat bagi mereka yang meremehkan kondisi kelas menengah dan anak muda.
"Tagar #KaburAjaDulu bukan hanya keluhan, tapi kenyataan yang dialami oleh generasi muda Indonesia saat ini," kata Yorga.
Editor : Pimred Laksamana.id