Hasilnya menggembirakan. Sejumlah gajah terlihat dalam kondisi sehat, aktif makan dan bermain, termasuk anak-anak gajah.
“Alhamdulillah kita melihat gajah-gajah kita sehat walafiat, makan, main. Anak-anak gajah yang kecil juga masih sangat-sangat semangat,” kata Rahmat.
Bupati Ela mengaku bersyukur melihat langsung kondisi gajah yang tetap baik. Menurutnya, keselamatan satwa dan kelestarian habitat TNWK merupakan tanggung jawab bersama.
“Alhamdulillah kita melihat langsung gajah-gajah dalam kondisi baik. Ini menjadi kabar yang sangat menggembirakan. Tentu kita semua berharap habitat mereka terus terjaga dan masyarakat dapat ikut menjadi bagian dari upaya perlindungan satwa,” ujar Ela.
Bupati menegaskan, keberadaan TNWK bukan hanya penting bagi Lampung Timur, tetapi juga memiliki nilai konservasi nasional dan internasional.
Karena itu, penanganan karhutla menurutnya tidak boleh berhenti setelah api padam. Pencegahan, edukasi dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita mencegah agar kebakaran tidak kembali terjadi. Masyarakat juga memiliki peran yang sangat besar dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan ikut menjaga lingkungan di sekitar kawasan TNWK,” tegasnya.Sementara itu, Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengungkapkan bahwa mitigasi jangka panjang juga disiapkan untuk mengurangi potensi konflik antara gajah dan masyarakat di sekitar TNWK.
Sejumlah fasilitas penghalang dibangun melalui kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan dan Komite Satgas Mitigasi. Di antaranya pagar besi, high beam dan struktur penghalang lainnya untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi menuju permukiman.
Mitigasi juga dilakukan melalui pengembangan tanaman dan kegiatan ekonomi yang tidak disukai gajah, seperti budidaya serai dan lebah.
Editor : Pimred Laksamana.id
