Laksamana.id | Depok - Lebaran di kampung dahulu bukan sekadar perayaan, melainkan momen sakral yang dirayakan dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Seperti biasa, tradisi di kampung kami selalu menghadirkan Ketupat Lebaran dan Sekubal—makanan khas dari ketan putih atau hitam yang dibungkus dan dikukus seperti ketupat dalam balutan daun kelapa muda. Sajian ini semakin istimewa dengan beragam lauk-pauk, dari gulai opor, rendang, hingga sayur sop khas kampung kami yang selalu menggugah selera.
Setiap tamu yang singgah di rumah pasti diajak duduk dan menikmati hidangan. Tidak hanya ketupat dan sekubal, ada pula kue dodol buatan nenek dan tante tercinta, yang proses pembuatannya melibatkan seluruh anggota keluarga. Kemeriahan terasa sejak persiapan, dari pemotongan hewan hingga peracikan bumbu, semuanya dilakukan bersama-sama dalam suasana penuh canda tawa dan kekompakan.
Lebaran di kampung tidak hanya tentang makanan. Ada juga lantunan ayat suci yang tidak sekadar dikejar untuk khatam selama Ramadan, tetapi dinikmati keindahannya. Suara pembacaan ayat suci dari para anggota keluarga—dari nenek, kakek, ibu, ayah, hingga cucu dan cicit—bergema dengan begitu syahdu. Setiap pembaca memiliki ritme khasnya, memastikan bahwa seluruh ayat suci terselesaikan tepat saat malam takbiran tiba.
Sebagai keluarga petani, kami juga punya tradisi unik: menyajikan buah-buahan segar dan sayur mayur langka yang hanya muncul di hari istimewa. Salah satu hidangan favorit yang selalu ada berkat kreativitas nenek adalah gulai santan rebung—sebuah sajian khas yang kini jarang ditemui.
Usai salat Id, rumah kami dipenuhi kerabat, sahabat, dan tetangga. Meja makan di ruang tengah, teras rumah, hingga halaman luas semuanya menjadi tempat berkumpul. Terkadang, jagung bakar dan sate kambing hasil sembelihan sendiri ikut meramaikan suasana, membuat hari itu terasa benar-benar istimewa.Namun, semua itu kini hanya tinggal cerita. Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari masyarakat urban, semua keindahan itu terasa semakin jauh. Kenangan tentang perayaan Lebaran di kampung dahulu menimbulkan rindu yang mendalam, tetapi juga kesadaran bahwa waktu tak bisa diputar kembali.
Editor : Yanto