laksamana.id , Jakarta - Mantan petinju kelasse berat yang pernah menjadi juara dunia, George Edward Foreman atau George Foreman Diberitakan telah meninggalnya orang tersebut di Houston, Texas, Amerika Serikat pada hari Jumat, 21 Maret 2025 sesuai dengan waktu lokal. Berita duka itu disampaikan oleh keluarga melalui unggahan di Instagram pada akun si juara tinju terkenal @biggeorgeforeman.
Hatinya patah," demikian bunyi postingan itu, memperlihatkan Foreman di tengah-tengah beberapa generasi keluarganya. "Membawa rasa sedih yang dalam, kami ingin memberitahu tentang kedukaan kami karena kehilangan orang tersayang kita, George Edward Foreman Sr., yang kembali dengan tenang pada tanggal 21 Maret 2025, dipenuhi kasih sayang dari kerabatnya.
Sebelum dikenal sebagai juara dunia tinju, George Foreman pada awalnya adalah seorang remaja bermasalah yang pernah mengundurkan diri dari pendidikan. Tetapi kehidupannya berubah saat dia ikut dalam program kerja milik Presiden Lyndon Johnson yaitu President Job Corps. Itulah tempat dimana potensi tersembunyinya dalam cabang olahraga tinju pertama kali muncul.
Big George, sebutan yang nantinya dikenal oleh para pecinta tinju di seluruh penjuru dunia, pertamakali menarik perhatian ketika mengikuti ajang Olimpiade di Kota Mexico tahun 1968. Nama beliau pada masa tersebut belum familiar dalam kancah olahraga ini. Dengan kekuatan pukulan serta cara bertandingnya yang mendominasi sehingga berhasil memperoleh medali emas kategori bobot berat dengan sangat mengejutkan, Foreman pun akhirnya dipandang serius.
Tanpa goyah oleh popularitas yang dia peroleh di negaranya sendiri, sang petinju muda yang lahir pada tanggal 10 Januari 1949 di Marshall, Texas, memanjjangkan karier profesionalnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya dalam pencarian gelar juara dunia kelas berat. Pada akhirnya, tepat pada 22 Januari 1973 ketika masih berusia 24 tahun, ia sukses mengalahkan Joe Frazier dan menjadi pemegang gelar juara bertahan tanpa lawannya sejajar di kelas tersebut.
Pertempuran spektakuler "The Rumble in the Jungle" yang diiklankan secara luas melawan saingannya, mantan juara Olimpiade dan ikon tinju, Muhammad Ali, semakin memperkenalkan namanya kepada publik dunia. Namun demikian, kekalahan dia pada pertarungan tersebut merupakan hantaman besar bagi karir dominannya sebagai petinju kelas berat. Meskipun terus mencoba mengambil alih posisi tertinggi lagi, ia gagal menundukkan Ali sekali lagi dalam pertarungannya yang kedua.
Kekalahan kedua kali tersebut dari Ali mengharuskannya merefleksikan ulang tentang tujuan hidupnya, akhirnya ia memilih untuk pensiun dari dunia tinju selama sepuluh tahun. Namun, Foreman memberi kejutan kepada publik dengan kembalinya ke arena pertarungan ketika dia telah mencapai umur 38 tahun. Tanpa perlu banyak waktu, Big George langsung membuktikan lagi betapa perkasa dirinya dalam gelaran tinju.
Perlahan-lahan dia menggapai kembali gelar kelas berat, mencapainya dengan pertandingan melawan Evander Holyfield tanggal 19 April 1991. Mampunya tetap kompetitif di usia 42 tahun merupakan prestasi luar biasa sendirian, walaupun secara teori ia diperkirakan akan kalah. Akan tetapi, pencapaian tersebut belum menyamai kesuksesan besar yang diraih ketika melawani Michael Moorer.
Setelah berhasil memenangi kembali gelar juara dunia di kelas berat tanpa cela untuk kali kedua dalam hidupnya, Foreman menegaskan statusnya sebagai salah satu dari para petinju paling luar biasa sepanjang zaman. Petarung ini tetap aktif di ring tinju hingga beberapa tahun kemudian baru ia pensiun saat mencapai usia 48 tahun pada tahun 1997, membawa pulang total 76 kemenangan (dengan 68 kemenangan melalui knockout) serta catatan lima kekalahannya semasa menjalani profesi tarung profesionalnya.
Paska pensiun, orang yang dipanggil sebagai Big George kemudian bertransformasi menjadi seorang pebisnis yang cukup berhasil. Dia pernah membuat pakaian casual untuk kaum adam dengan ukuran jumbo bernama merek Big and Tall. Akan tetapi, bisnisnya yang terus berkembang hingga waktu lama ialah alat panggang yang dinamai "George Foreman Grill". Di samping itu, ia pun menjalankan sebuah firma pedagang daging.
Dalam kegiatan bisnisnya yang padat, Foreman, ayah dari 12 orang anak, juga aktif dalam pelayanan gerejanya. Dia merintis Pusat Pelatihan Remaja bernama George Foreman Youth and Community Center pada tahun 1984. Sejak awal tahun 1980-an dia pun membangun sebuah gereja di Houston, Texas, tempat dia secara teratur memberikan khotbah. Aktivitas ini dilakukan olehnya dengan frekuensi tiga kali seminggu yaitu pada hari Jumat malam, Minggu pagi, dan Minggu siang.
"Usaha saya adalah untuk mengekspresikan isi Alkitab yang tidak mereka kenali," demikian disampaikan oleh Foreman sebagaimana dilaporkan. The Sun Saya paham bahwa orang-orang mencari hal-hal yang bisa menolong mereka bertahan sepanjang minggu.
Dia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah kekurangan inspirasi untuk memberikan ceramah atau membicarakan beragam masalah, mulai dari kemacetan lalu lintas, penggunaan obat-obatan, status planet Pluto, hingga tentang belas kasihan dan kemurkaan Tuhan. Dalam kapasitas sebagai seorang Kristen, dia menceritakan tentang bagaimana dirinya telah dilahirkan kembali setelah menghadapi kekalahan dalam pertandingan tinju dunia melawan Jimmy Young tahun 1977. Pada saat itu, ia bahkan sempat pingsan dan hampir meninggalkan dunia ini. Namun, ia merasa "tangan raksasa" yang memegangnya kembali sehingga bangkit kesadaran di atas meja ruang ganti dengan teman-temannya serta tim yang ada disekitar.
Di kamar mandi ganti saya berjalan bolak-balik untuk meredakan kecemasan. Kemudian, dalam sekejap, saya bertarung demi kelangsungan hidup," katanya. "Sejak saat itu, saya sadari Yesus tinggal di dalam hati saya.
Kisah perjuangan George Foreman Yang luar biasa di dunia tinju turut dipertunjukkan melalui sebuah film biografi berjudul Big George Foreman: The Miraculous Story of the Once and Future Heavyweight Champion of the World, yang rilisnya jatuh pada tanggal 28 April 2023.
Editor : Pimred Laksamana.id