RS Vertikal Riau: Proyek Ambisius yang Diprotes Mahasiswa, Akankah Sesuai Harapan

RS Vertikal Riau: Proyek Ambisius yang Diprotes Mahasiswa, Akankah Sesuai Harapan
RS Vertikal Riau: Proyek Ambisius yang Diprotes Mahasiswa, Akankah Sesuai Harapan

Laksamana l Pekanbaru - Pembangunan Rumah Sakit (RS) Vertikal khusus Otak, Jantung, dan Nefrologi di Jalan Naga Sakti, Pekanbaru, menuai protes dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (UNRI). Meski pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran hingga Rp1,6 triliun untuk pembangunan dan Rp1 triliun per tahun untuk operasional, mahasiswa menilai proyek ini sarat dengan potensi masalah yang perlu disoroti.Dalam aksi protesnya, BEM UNRI mempertanyakan apakah proyek ini benar-benar dibangun demi kepentingan masyarakat Riau atau hanya menjadi ajang pencitraan pemerintah pusat. Mereka menyoroti banyaknya proyek kesehatan sebelumnya yang mangkrak atau tidak berjalan maksimal karena buruknya pengelolaan, minimnya tenaga medis, serta tidak transparannya penggunaan anggaran.

“Kami mendukung peningkatan layanan kesehatan, tetapi apakah ini solusi yang paling mendesak? Jangan sampai rumah sakit ini hanya menjadi bangunan megah tanpa layanan berkualitas,” ujar salah satu perwakilan BEM UNRI dalam aksinya.Mahasiswa juga menyoroti alokasi anggaran yang sangat besar, terutama Rp1 triliun per tahun untuk operasional. Di saat fasilitas kesehatan daerah masih banyak yang kekurangan tenaga medis dan peralatan dasar, mengapa dana sebesar itu justru difokuskan pada satu rumah sakit? Mereka menuntut transparansi dalam pengelolaan dana serta memastikan anggaran tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat, bukan hanya segelintir pihak.

BEM UNRI juga mengingatkan bahwa layanan spesialis seperti jantung dan otak membutuhkan dokter serta tenaga medis dengan kompetensi tinggi. Jika pemerintah berencana merekrut tenaga medis dari Riau, apakah SDM lokal sudah cukup mumpuni? Jika tidak, apakah mereka akan mendatangkan tenaga dari luar dengan gaji tinggi yang justru menambah beban keuangan negara?Dengan proyeksi operasional pada November 2026, mahasiswa juga mempertanyakan apakah target tersebut realistis. Mengingat proyek ini baru memasuki tahap awal dengan persiapan tiang pancang, apakah mungkin dalam waktu kurang dari dua tahun rumah sakit ini sudah bisa beroperasi penuh? Jika pembangunan tersendat atau tidak sesuai rencana, siapa yang akan bertanggung jawab?. (Red).

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag: