Sebanyak 100 ton ikan mati masal ditemukan di Waduk Jatiluhur, di dua desa yaitu Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, dan Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Lebih dari 90% ikan yang mati adalah ikan mas yang diperkirakan bernilai sekitar Rp 2,2 miliar, dengan asumsi harga saat ini adalah sekitar Rp 22 ribu per kilogram.
Hal ini menyebabkan pasokan oksigen mengalami penurunan yang drastis.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyatakan bahwa insiden tahunan seperti kematian ikan dalam jumlah besar harus tidak berulang lagi. KKP setiap tahun selalu memberikan saran teknis kepada daerah-daerah yang memiliki perairan umum untuk melindungi dan menangani kematian massal ikan budidaya di perairan umum yang disebabkan oleh cuaca ekstrem.
Fenomena kematian ikan massal ini bukan hanya disebabkan oleh upwelling, melainkan juga karena penggunaan Keramba Jaring Apung (KJA) yang tidak sesuai dan melebihi kapasitas seperti yang diperiksa oleh tim KKP.
KKP mengingatkan pembudidaya untuk menggunakan KJA sesuai dengan standar dan daya dukung zona yang ditentukan. Dia berharap masyarakat pembudidaya mengambil langkah antisipatif untuk menghindari kerugian yang disebabkan oleh kematian massal.
"Peringatan cuaca ekstrim sudah kami lakukan dan tanda-tanda kualitas air sudah mulai menunjukkan kesalahan. Mengapa tidak melakukan panen massal atau panen awal untuk menghindari risiko kematian massal," kata Tebe.
Ujang menasihati para pembudidaya untuk melakukan panen total maupun panen awal untuk mencegah kematian ikan massal, terutama untuk jenis ikan mas yang sangat bergantung hidupnya pada ketersediaan oksigen terlarut (O2) yang stabil.
"Kondisinya stabil. Secepatnya angkat ikan yang telah mati dari air dan langsung gali lubang untuk memakamkannya, supaya waduk kembali normal dan tidak tercemar," kata Ujang.
Editor : Pimred Laksamana.id