Pertama kali dalam sejarah militer Indonesia seorang suami dan istrinya sama-sama menjadi Jenderal.
Mereka juga berada di suatu tempat yang sama, pada tahap awal.
Tidak hanya itu, pekerjaan mereka pun sama satu sama lain.
Dua orang itu adalah Brigjen TNI Agus Mintarto dan Brigjen TNI Winarni.
Brigjen TNI Agus Mintarto baru saja pensiun pada tahun 2024 lalu dalam posisi sebagai staf khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).
Saat ini, Brigjen TNI Winarni masih bertugas sebagai Staf Khusus Kasad.
Winarni dan Agus berasal dari cabang yang sama, yaitu Korps Ajudan Jenderal (CAJ).
Jabatan terakhir jenderal bintang 1 ini adalah Widyaiswara Bidang Akademi Militer.
Profil Brigjen TNI Winarni
Winarni merupakan salah satu dari beberapa prajurit Kowad yang berhasil mendapatkan pangkat bintang di pundaknya.
Benar saja bila dijawab "Perempuan Kowad lebih sedikit menjadi komandan," atau demikian saja.
Menurut Wikipedia, Brigadir Jenderal TNI Winarni, S. M. adalah perwira tinggi Seperti Angkatan Darat yang sejak tanggal 21 Januari 2022 menjabat sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat.
Penghormatan dari Departemen Pembantu Jenderal (Caj)
Tingkat terakhir yang pernah dititipkan Jenderal Bintang Satu ini dalam dinas adalah Penasihat Bidang Jenderal Akmil.
Sebelum menjadi jenderal, dia menjabat sebagai Kepala Pendidikan Pada Komando Wilayah Gerakan Darat.
Lalu, ia dilantik sebagai brigadir jenderal (brigjen) pada tahun 2020.
"Sebelum dinaikkan pangkat satu tingkat aku menjadi Danpusdik Kowad. Wanita Calon Bintara dididik menjadi Kowad," kata dia dalam wawancara melalui Channel TNI AD yang disebutkan Tribun, Jumat (24/1).
"Terima kasih saya ucapkan kepada KSAD atas kepercayaan mengemban amanah sebagai wide wahara dalam manajemen pertahanan," ujarnya.
Orang itu menyatakan segan hati menjadikan dirinya sebagai pengajar berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
"Dulu ketika saya sebagai kepala pendidikan dan latihan, saya mengajar para wanita lulusan SMA untuk menjadi sersan kelas kecabangan. Sekarang, tugas saya sebagai dosen pengajar di Akademi Militer untuk mendidik generasi calon pemimpin bangsa," ujar beliau.
Riwayat Pendidikan
Pendidikan Umum
Pendidikan Militer
Riwayat Jabatan
Profil Brigjen Agus
Agus, lulusan Akademi Militer tahun 1988A ini berasal dari Korps Ajudan Jenderal (Caj).
Penghargaan terakhir bagi jenderal bintang satu ini adalah sebagai Direktur Umum Kodiklatad.
Riwayat Jabatan
Profil Jenderal Wanita
Mengenal lima Perempuan Pertama Angkatan Bersenjata TNI dan Kepolisian Indonesia.
1. Dr. H. Rachmawati Diah Puspitasari istri Jenderal Soedirman, General Mayor Kepolisian
2. Pol. Dra. T. Narasih, Komisaris I Mabes Polri yang paling senior
3. Brigjen Pol. Sri Wahyuni SM
4. Brigjen TNI (PTH) Sri Sunardi
5. PC. Letjen Pol TNI (Purn) Naomi Yulianti
Masing-masing empat panglima laut bintang satu dan satu panglima laut bintang dua.
Perwira tinggi wanita senior dengan pangkat bintang satu adalah Brigadir Jenderal (Purn) TNI Raden Ayu Kartini Hermanus, Laksamana Muda TNI (Purn) Christina Maria Rantetana, Marsekal Pertama TNI (Purn) Rukmini, dan Brigjen Polisi (Purn) Jeanne Mandagi.
Adapun perwira wanita berpangkat dua bintang adalah Irjen Pol (Purn) Basaria Panjaitan.
Raden Ayu Kartini Hermanus adalah jenderal wanita pertama atau jenderal pertama bintang satu di Angkatan Darat TNI.
Laksamana Madya Christina Maria Rantetana adalah Laksamana TNI-PAL yang pertama kali dalam jabatan bintang satu.
Sepanjang masa karir Christina Maria Rantetana, ia pernah menerima promosi menjadi Wadan Madya (tersimbulkan pangkat dua bintang).
Rukmini adalah mayor jenderal pilot satuan komando di Angkatan Udara TNI (TNI AU).
Jeanne Mandagi merupakan Pertama Jenderal Bintang Satu perempuan pertama dalam jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Basaria Panjaitan termasuk Jenderal Bintang 2 wanita pertama di Kepolisian Republik Indonesia.
Berikut perincinya: Kami berikut beberapa profil dan rekening mereka hingga saat ini.
1. Brigjen Raden Ayu Kartini Hermanus
Berdasarkan sumber tersebut, Brigjen TNI Kartini Hermanus lahir pada tanggal 2 Agustus 1949 di Surakarta, Jawa Tengah.
Dia adalah anak kedua dari ibu Ray Parmanti.
Kerabat Liu Laoran dari garis ibu adalah keturunan Sultan Mangkunagara III dari Kerajaan Mangkunegaran dan Sultan Pakubuwana III dari Kerajaan Surakarta Hadiningrat.
Kartini Hermanus menikah dengan Kolonel Infanteri (Purn) Pieter Hermanus Van der Linde, mantan perwira angkatan darat пенsiunan desain Pindad SS2.
Pasangan ini memiliki empat orang anak, yaitu Ondre Hermanus, Marta Hermanus, Jimmy Hermanus, dan Terry Hermanus.
Apakah dia masih akan menghormati suaminya setelah dia mengunggulinya pada tahun 2000, Kartini Hermanus menyatakan bahwa
Saya sangat hormat pada suami di rumah. Terutama karena dia sudah berhenti dari karirnya di militer.
Karier Militer
Brigjen TNI Kartini Hermanus adalah seorang perwira militer Indonesia yang telah menjabat sebagai jenderal wanita pertama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Setelah berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi selama dua tahun, ia lantas mendaftarkan diri ke Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil) pada tahun 1970.
Setelah lulus dari Pendidikan Angkatan Dasar Angkatan Udara Minimum (Sepawamil), Kartini menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dari kecabangan Korps Ajudan Jenderal.
Dia memasuki Akademi Staf dan Komando Angkatan Darat Indonesia pada tahun 1993 dan lulus tahun berikutnya. Pada tahun itu, Kartini dan Kolonel Haerasma adalah satu-satunya wanita dari 201 perwira militer yang mengikuti pendidikan di Seskoad.
Kartini dilantik sebagai Komandan Pusat Pendidikan Korps Besar Tentara Angkatan Darat Wanita pada tanggal 27 Mei 1997.
Pemilkannya dilaksanakan setelah lepasnya Pusdik Kowad dari PKD Pusat Angkatan Darat, Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan.
Kartini menjabat sebagai inspektur selama tiga tahun. Pada awal November 2000, dia dipilih menjadi staf ahli Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Bidang Sosial Budaya.
Kartini Hermanus mendapatkan promosi jabatan ke titel Brigadir Jenderal pada 1 Desember 2000 dan mencapai posisi sebagai jenderal wanita pertama di TNI AD.
Ia pensiun dari militer pada tanggal 11 November 2004.
Kartini Hermanus meninggal dunia pada usia 72 tahun pada tanggal 24 Agustus 2021.
2. Letnan Letnan Satuan Militer (Laksda) Christina Maria Rantetana
Nama lengkapnya Laksamana Muda (Laksda) TNI (Purn.) Christina Maria Rantetana, S.KM., M.PH.
Laksda Christina Maria Rantetana dilahirkan di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 24 Juli 1955.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah pada tahun 1974 di suatu sekolah Katolik, ia menerima gelar sarjana dalam bidang perawatan umum sebelum bergabung ke militer Indonesia pada tahun 1979.
Ia kemudian memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan gelar magister dari University of Tulane.
Dia memiliki lima orang anak, dan dia terkait dengan pembangunan patung Yesus Buntu Burake di Tana Toraja.
Christina adalah perempuan pertama dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di luar negeri, pertama kali di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia.
Ia juga merupakan gelandang Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) pertama yang dijadikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Perempuan pertama dalam sejarah yang menjabat sebagai Ketua Sekolah Kesehatan Angkatan Laut.
Anggota Kowal pertama yang memperoleh gelar strata dua dari Universitas Tulane di New Orleans, Amerika Serikat dan dilantik sebagai Wakil Staf Ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Bidang Ideologi dan Konstitusi. Pria ini juga menjadi jenderal bintang dua di Angkatan Laut dan merupakan perempuan pertama yang meraih pangkat tersebut di Angkatan Laut tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh ASEAN.
Karier Militer
Laksda TNI (Purn) Christina Maria Rantetana adalah seorang mantan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.
Christina Maria Rantetana adalah wanita pertama yang mencapai pangkat bintang di TNI AL.
Didalam TNI Angkatan Laut, Rantetana menjadi wakil TNI/Polri di Dewan Perwakilan Rakyat untuk dua periode, yaitu 1997-1999 dan 1999-2004.
Pada periode terakhir, dia merupakan sekretaris komisi fraksi tersebut.
Pada tanggal 1 November 2002, Kolonel Christina Maria Rantetana dinaikkan pangkat menjadi Laksamana Pertama (pangkat bintang satu) menjadi perempuan pertama yang mencapai tingkat ini di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.
Christina Maria Rantetito dinaikkan pangkat menjadi letnan muda pada juni 2013, ketika ia ditugaskan di koordinator politik, hukum, dan keamanan sebagai staf senior menteri bidang ideologi dan konstitusi.
Christina Maria Rantetana menjadi Jenderal Bintang 2 wanita pertama di TNI AL serta se-ASEAN.
Christina Maria Rantetana meninggal di rumah sakit angkatan laut di Jakarta pada 31 Juli 2016.
Dia dimakamkan di pemakaman tradisional Toraja dengan didampingi militer. Jasadnya diletakkan di lubang kubur berlubang sekitar 30 meter di atas tebing sambil diselingku 'salvo' tembakan.
3. Marsekal Pertama Rukmini
Nama lengkapnya Marsma (Purn) Rukmini, S.IP., M.M.
Dia lahir di kota Pacitan yang terletak di Provinsi Jawa Timur.
Rukmini bersekolah di SMP di Pacitan mulai tahun 1962 hingga 1965 dan SMA di Bandung mulai tahun 1967 hingga 1970.
Setelah menamatkan SMA, ia belajar di Fakultas Teknik Elektro Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung.
Dia lulus dari lembaga pendidikan pada tahun 1975 dengan derajat di bidang pendidikan.
Rukmini menikah dengan Marsda TNI Imam Wahyudi, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang berpangkat Marsekal Muda.
Pasangan ini dikaruniai dua anak yang masih diasuh secara bergilir, yaitu Frita Yuliati (lahir tahun 1979) dan Rahmat Basuki (lahir tahun 1982).
Karier Militer
Marsekal Pertama TNI (Purn.) Rukmini adalah seorang perwira angkatan udara Indonesia yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari tahun 1997 hingga tahun 2002.
Rukmini merupakan wanita pribadi pertama yang menjabat posisi perwira senior di Angkatan Darat Tentara Nasional Indonesia.
Setelah lulus dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung, Rukmini melanjutkan pendidikannya pada sekolah perawat angkatan udara dan mulai bertugas di angkatan udara semenjak tahun 1976.
Pertama kali dia bekerja di Angkatan Udara dengan posisi kepala biro pengembangan data sampai tahun 1978.
Sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai Ketua Sekretariat SPHSU TNI-AU dari tahun 1987 hingga 1988 dan selanjutnya sebagai Kepala Biro Pengawasan dan Manajemen Audit dari tahun 1994 hingga 1997.
Selama periode karirnya di TNI AU, Rukmini mengikuti pendidikan tingkat tinggi di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara, serta mengambil Kursus Sosial Politik Angkatan Bersenjata dan kursus IBMC (Instructor Basic Military Course).
Dia juga menempuh studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka dan lulus dengan gelar sarjana pada tahun 1995.
Pada tanggal 1 Oktober 1997, Rukmini ditunjuk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari golongan parlemen TNI/Polri dengan pangkat letnan kolonel.
Beberapa lama setelah itu, dia dinaikkan pangkat menjadi kolonel.
Ia ditunjuk kembali menjadi wakil komandan ke dua pada tahun 1999 dan kemudian dinaikkan statusnya menjadi marsekal pertama sehingga menjadi orang pertama perempuan yang memegang pangkat marsekal di TNI AU Indonesia.
Dia dilucuti dari jabatan anggota dewan pada 23 Oktober 2002 dan sementara menjabat sebagai staf pribadi untuk urusan peradilan bagi Kepala Staf Angkatan Udara sebelum pensiunnya dari militer.
4. Brigjen Jeanne Mandagi
Jenjang dinamakan lengkapnya Brigjen Jeanne Mandagi, S.H.
Jeanne Mandagi adalah orang asli asal Minahasa, lahir pada tanggal 2 April 1937 di Manado, Sulawesi Utara.
Dia menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah pertamanya di sebuah yayasan pendidikan yang dimiliki oleh Biarawati Katolik Manado.
Jeanne Mandagi mengikuti pendidikan menengah atas di SMA Santa Ursula, Jakarta, dan meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1963.
Pada saat menempuh pendidikannya ia bergabung sebagai anggota aktif Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Karier di Kepolisian
Kolonel Jenderal Jeanne Mandagi dikenal sebagai seorang tokoh yang peduli terhadap perempuan dan merupakan jenderal wanita pertama di dalam kepolisian Republik Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan di universitas, ia memulai karier kepolisian di Sekolah Tinggi Kepolisian dan ditetapkan sebagai anggota polisi perempuan sejak tanggal 1 Desember 1965.
Pada tahun 1966, Mandagi mengikuti program Peradilan Militer dan menyelesaikan pendidikannya sehingga ia menjadi Kepala Bagian Hukum Komisariat Daerah Maluku.
Pada tahun 1970, Mandagi diberikan tanggung jawab untuk memimpin seksi pembinaan anak-anak, pemuda, dan perempuan (Kasi Binapta) Polda Metro Jaya dan menjabat sebagai hakim militer di wilayah Jakarta-Banten. Keinginan Mandagi untuk mencegah penggunaan narkotika secara tidak terkendali dimulai ketika ia mengikuti kelas pelatihan United Nations Regional Course on the Control of Narcotics pada tahun 1974.
Setahun kemudian, ia melanjutkannya dengan menghadiri kursus penegakan hukum narkotika di Washington, Amerika Serikat.
Sertifikasi dari beberapa kursus yang telah dia ikuti membawanya ke Markas Besar Polri di bidang reserse narkotika pada tahun 1976.
Pada tahun 1980, ia dinaikkan pangkat menjadi kolonel setelah menyelesaikan pendidikan kepolisian di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Sesko ABRI).
Pada tahun 1985, Mandagi menjabat di posisi Narcotics Desk Officer di organisasi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, atau dikenal juga dengan nama ASEAN. Pada tahun 1989, ia menjabat selama tujuh bulan sebagai Sekretaris Direktorat Bimbingan Masyarakat yang merupakan struktur di Polri.
Pada tahun 1989 hingga 1992, Mandagi diangkat menjadi pelaksana utama dalam pengamanan Divisi Publikasi (sekarang Divisi Humas) di polisi.
Jeanne Mandagi diangkat menjadi Brigadir Jenderal pada tahun 1991, yang merupakan perempuan pertama di Indonesia yang membuntuti pangkat Jenderal Kepolisian.
Jeanne Mandagi juga pernah menjabat sebagai Konsultan Ahli di Badan Narkotika Nasional (BNN dan aktif dalam penanganan pemberantasan narkoba di Indonesia
Dapat dikatakan bahwa Mandagi merupakan inspirasi bagi seorang wanita Indonesia karena ia memiliki sifat feminin, peran ibu yang mendampingi, sederhana, berani, dan peduli akan masa depan generasi muda.
Ia bahkan dititipkan sebagai konsultan senior bagi mantan Jenderal Polisi Madiah dan Presiden Komunitas Polisi Purnawirawan Indonesia memberantas Narkoba (AP2ANI).
Brigjen Jeanne Mandagi juga berpartisipasi dalam mendirikan Yayasan Permadi Siwi sebagai lembaga pengobatan rehabilitasi narkoba.
Jeanne Mandagi wafat pada usia 80 tahun pada tanggal 7 April 2017 dan dikuburkan di Pekuburan Umum Jagakarsa, Jakarta Selatan.
5. Irjen Basaria Panjaitan
Basaria Panjaitan dikenal dengan nama lengkap Irjen Pol (Purn.) Basaria Panjaitan, S.H., M.H.
Dia kemudian dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1957.
Irjen Basaria Panjaitan disebutkan sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Jenderal dua bintang) dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia, melalui kenaikan pangkat dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 81 / Polri RI/ Tahun 2015 dan Surat Telegram Kapolda Republik Indonesia Nomor: STR/843/X/2015 tanggal 20 Oktober 2015
Dia juga merupakan wanita pertama yang dipilih untuk menjadi komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.
Ia diangkat menjadi anggota komisi dengan pemilihan yang terbuka oleh anggota Komisi III DPR RI pada bulan Desember 2015.
Berikut adalah informasi lengkap tentang Irjen Basaria Panjaitan:
Pendidikan
Sumber Wikipedia menyebutkan bahwa Basaria Panjaitan merupakan Sarjana Hukum dari Sepamilsukwan Polri Kelas '84.
Dia melamar masuk Sekolah Calon Perwira (Sepa) Polri di Sukabumi dan mendapatkan pendidikan di sana.
Basaria lulus sebagai petugas sivitas polisi dengan pangkat Letnan Dua segera ditugaskan di tim penindak narkoba Polda Bali.
Pendidikan pasca sarjana yang ditempuhnya adalah Magistrat Ilmu Hukum Ekonomi di Universitas Indonesia.
Karier Kepolisian
Basaria Panjaitan bertugas di bidang penyidikan di Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Basaria arkarya Dinas Korsupernapas Polda NTB (1997 - 2000), Divisi Narkoba Polda Jabar (2000 - 2004), dan Direktorat Reserse Kriminal Polda Kepri (2006 - 2008).
Dia, seorang Jenderal Bintang 2, pernah menjabat sebagai Kapusprovos Divpropam Polri (2009), Karo Bekum SDelog Polri (2010), dan Widyaiswara Madya Sespim Polri Lemdikpol.
Dia masuk Sekolah Calon Perwira (Sepa) Polri di Sukabumi dan dididik di sana, dan dia juga diterima.
Lulus sebagai polisi wanita berpangkat Letnan Dua, Basaria kemudian diangkat sebagai penyelidik di Unit Tata Narkoba Polda Bali.
Dari sana, Basaria mengalami keberhasilan di berbagai pos penugasan.
Basaria Panjaitan pernah menjabat Kepala Biro Logistik Polri, Kabag Narkoba di Polisi Daerah NTT, dan menjabat Direktur Reserse Kriminal Polisi Daerah Kepulauan Riau.
Bahasa Indonesia: Dari Batam, Basaria dipanggil ke Mabes Polri, menjadi penyidik utama Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim.
Dia pernah mengeksaminasi mantan Kepala Badan Reserse Kriminal, Jenderal Polisi (JB VIII)[/editor] Jenderal Bintang Tiga Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Susno Duadji, terkait penyalahgunaan kode etika.
Dari tahun 2010 hingga tahun 2015, Basaria menjabat sebagai Widyaiswara Utama di Bidang Pengembangan Polri.
Basaria Panjaitan dicatatkan sebagai perempuan pertama yang merupakan Irjen dalam sejarah Polri melalui promosi pangkat berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 81/ Polri RI/ Tahun 2015 dan Telegram Kapolri Nomor: STR/843/X/2015 tanggal 20 Oktober 2015.
Riwayat Jabatan
-Anggota senior Komisariat Pelopor Polisi di GIA-PPRN Polri (1984)
- Perintah Satuan Otorita Indonesia Bersama Ditserse Devisi Pemolisri Mabes Polri (1990)
Lembaga Narkoba Kapolda NTB (1997)
Kepala Bagian Narkotika, Psikotropika, dan Obat-obatan Berbahaya (BNPO) Polisi Daerah Jawa Barat
Direktorat Reserse Kriminal (2007)
Kapten Polisi Yiin, Nasir Sidik
Siaran Pers Departemen Perdagangan dan Industri RI (1990): "laporan "Rakyat Sebagai Saham Pasar atau Dalam HARAPAN Terbaliknya Rakyat ??? "
- Karobekum Sdelog Polri[3]
Kapten Polisi Sespim Madya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat[4] (2010)
- Sahlisospol Kapolri (2015)
Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia yang menjabat Wakil Ketua dari tahun 2015 sampai 2019.
Editor : Pimred Laksamana.id