Pekanbaru –Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis (TREM), Fakultas Teknologi Kesehatan, Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA), kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi kesehatan melalui partisipasi pada ajangInternational Electromedical Innovation Competition (IEIC) 2026. Sebanyak sembilan mahasiswa yang tergabung dalam tiga tim inovasi telah menyelesaikan rangkaian presentasi dan demonstrasi karya secara daring. Ketiga inovasi yang dipresentasikan adalahNeuroEMG, GlucoSense-IoT, dan BrainScan.my, di bawah bimbinganRamdhani Syahputra, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA. Keikutsertaan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis inovasi, yang mengintegrasikan kompetensi mahasiswa dalam bidang instrumentasi elektromedik, pengolahan sinyal biomedis, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan pengembangan teknologi kesehatan digital.
NeuroEMG: Inovasi Akuisisi Sinyal Otot untuk Penelitian Pascastroke
Tim pertama mengusung inovasiNeuroEMG, yang dikembangkan olehTrio Andika, Ega Anggriana, dan Sunanda Pasuma. NeuroEMG merupakan prototipe sistem akuisisi sinyalsurface electromyography(sEMG) yang dirancang untuk merekam dan menganalisis aktivitas listrik otot lengan bawah. Sistem ini menggunakan pendekatan pengukuran sekuensial pada empat otot target, yaituFlexor Digitorum Superficialis(FDS),Flexor Carpi Radialis(FCR),Extensor Digitorum Communis(EDC), danExtensor Carpi Radialis Longus(ECRL). Melalui integrasi sensor sEMG, rangkaian penyaringan sinyal, mikrokontroler, dan perangkat lunak analisis, NeuroEMG dikembangkan untuk menghasilkan parameter kuantitatif aktivitas otot, seperti RMS, MAV, dan iEMG. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sistem penelitian karakterisasi neuromuskular, khususnya untuk mendukung kajian fungsi motorik tangan pada pasien pascastroke.
Yanto