BANGKOK – Sebanyak 68 peserta didik taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) kelas 1–3 Sekolah Indonesia Bangkok (SIB), Thailand, mengikuti edukasi tentang makanan sehat dan gizi seimbang melalui permainan “Isi Piringku” pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) untuk meningkatkan pemahaman anak-anak tentang pentingnya mengonsumsi makanan bergizi sejak usia dini.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai makanan sehat dan gizi seimbang. Tim memperkenalkan kelompok makanan yang meliputi makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, dan buah-buahan, serta menjelaskan jenis makanan yang perlu dibatasi karena mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dan gambar berwarna agar mudah dipahami oleh peserta didik.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan permainan “Isi Piringku”. Sebanyak 68 peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk memilih dan menyusun berbagai jenis makanan ke dalam piring sesuai dengan prinsip gizi seimbang yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Melalui permainan ini, anak-anak diajak belajar mengenali makanan sehat, berdiskusi dengan teman sekelompok, dan menentukan pilihan makanan yang tepat.
Ketua pelaksana kegiatan, Eva Mayasari, M.Kes., dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat IKTA, mengatakan bahwa edukasi gizi sejak dini penting untuk membangun kebiasaan makan sehat pada anak. Menurutnya, metode permainan dipilih agar materi lebih mudah dipahami dan diingat oleh peserta didik.
“Kebiasaan makan terbentuk sejak usia dini. Kami ingin anak-anak memahami bahwa makanan sehat itu tidak membosankan. Melalui permainan, pesan tentang pentingnya gizi seimbang dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan lebih mudah diingat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai konsumsi sayur dan buah. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip dalam materi kegiatan, hanya 3,3 persen penduduk berusia di atas lima tahun yang mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan sederhana untuk memilih makanan sehat, termasuk ketika berada di lingkungan dengan beragam pilihan jajanan dan makanan cepat saji.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta didik mampu menyebutkan sejumlah contoh makanan sehat, seperti nasi, ikan, telur, sayuran, buah-buahan, dan susu. Kegiatan kemudian ditutup dengan ikrar bersama sebagai bentuk komitmen peserta untuk membiasakan diri mengonsumsi makanan sehat setiap hari.Kepala Sekolah Indonesia Bangkok, Maria Victoria, M.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi materi edukasi yang dinilai bermanfaat dan metode penyampaian yang sesuai dengan karakteristik anak-anak.
“Kami berterima kasih atas kegiatan ini. Materinya sangat bermanfaat dan cara penyampaiannya cocok untuk anak-anak kami,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa IKTA dalam menerapkan edukasi kesehatan di lingkungan internasional. Ke depan, tim berencana melibatkan guru dan orang tua untuk mendukung penerapan kebiasaan makan sehat di rumah, salah satunya melalui pemantauan bekal sehat anak. (red/adri)
Editor : Yanto
