Laksamana.id | Lampung Barat —
Setelah beberapa pekan terakhir menebar ketakutan di tengah warga, seekor harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) akhirnya tertangkap hidup-hidup di wilayah Pemangku Kali Pasir, Pekon Sukabumi, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, pada Selasa (28/10/2025) pagi.
Penangkapan satwa langka yang dilindungi undang-undang ini merupakan hasil kerja keras petugas gabungan dari aparat pekon, kepolisian, serta tim konservasi, yang sejak dua minggu terakhir memasang perangkap di sejumlah titik rawan usai beberapa kali harimau tersebut terdeteksi berkeliaran di sekitar area hutan dan permukiman warga.
Tertangkap Setelah Menyerang Warga
Sebelumnya, keberadaan harimau ini menimbulkan kecemasan luar biasa bagi masyarakat setempat, terutama setelah insiden tragis yang menimpa Misri (60), seorang petani yang tewas diserang satwa buas tersebut saat beraktivitas di kebun beberapa waktu lalu.
Peratin Pekon Sukabumi, Alamsyah, membenarkan kabar tertangkapnya harimau tersebut.
“Benar, seekor harimau Sumatra tertangkap di jebakan yang dipasang oleh petugas gabungan. Saat ini saya berada di lokasi. Kondisi harimau masih hidup dan diamankan dalam perangkap,” ujar Alamsyah saat dikonfirmasi Laksamana.id.
Ia menjelaskan bahwa petugas telah memasang garis pembatas di sekitar lokasi untuk menghindari warga mendekat, mengingat hewan tersebut masih bisa membahayakan jika merasa terancam.
“Kami sudah koordinasi dengan pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung. Tim mereka sedang dalam perjalanan dari Bandar Lampung untuk melakukan evakuasi dan penanganan lebih lanjut,” tambahnya.
Warga Mulai Tenang, Tapi Masih Waspada
Pasca tertangkapnya harimau tersebut, warga sekitar mulai menarik napas lega setelah beberapa hari terakhir hidup dalam ketakutan. Aktivitas masyarakat perlahan kembali normal, meski sebagian masih memilih tidak beraktivitas jauh dari permukiman, khawatir masih ada harimau lain yang berkeliaran di kawasan hutan.
“Kami bersyukur harimau itu sudah tertangkap. Tapi kami tetap waspada, takut masih ada yang lain di hutan,” ungkap Suryadi, salah satu warga Pemangku Kali Pasir.
Konflik Manusia dan Satwa Liar Masih Tinggi
Penangkapan harimau Sumatra di Sukabumi ini menjadi pengingat keras bahwa konflik antara manusia dan satwa liar di sekitar kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) masih terus terjadi.
Aktivitas pembukaan lahan, perambahan hutan, dan perburuan liar diduga menjadi salah satu pemicu berkurangnya ruang jelajah satwa, sehingga harimau terpaksa turun ke wilayah permukiman dalam mencari mangsa.
Pemerhati lingkungan dari Forum Konservasi Lampung Barat, Dodi Saputra, menilai kejadian ini menunjukkan pentingnya keseimbangan ekosistem dan edukasi masyarakat.
“Harimau Sumatra adalah satwa endemik yang sangat terancam punah. Kalau habitatnya terus menyempit, konflik dengan manusia akan terus berulang. Pemerintah dan BKSDA harus segera memperkuat patroli dan sosialisasi di daerah penyangga hutan,” ujarnya.
BKSDA Diharapkan Bertindak Cepat
Hingga berita ini diterbitkan, tim BKSDA Lampung masih dalam perjalanan menuju lokasi untuk melakukan evakuasi dan pemeriksaan medis terhadap harimau tersebut. Setelah proses penanganan, satwa kemungkinan akan dilepaskan kembali ke habitat aslinya di zona aman kawasan konservasi.
Masyarakat berharap pihak berwenang dapat segera mengambil langkah cepat dan tepat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Selain memastikan keselamatan warga, kelestarian satwa langka seperti harimau Sumatra juga harus dijaga demi keseimbangan alam.
“Ini bukan sekadar soal keamanan manusia, tapi juga tanggung jawab kita menjaga warisan alam Indonesia,” tutur salah satu tokoh adat setempat.
#HarimauSumatra
#LampungBarat
#BKSDA
#KonflikSatwaManusia
#TNBBS
#Laksamana.id
Editor : Yanto